Sumber Gambar: http://ershortiers.files.wordpress.com
Secara umum, lahan di Indonesia dibedakan menjadi kawasan beriklim basah
dan beriklim kering. Lahan di daerah beriklim basah didominasi oleh
tanah masam akibat pencucian yang intensif, seperti Podzolik
Merah-Kuning, Latosol, Andisol, dan Aluvial. Tanah-tanah tersebut
umumnya miskin unsur hara dengan pH masam (kecuali tanah Aluvial), dan
rendah kadar bahan organiknya (kecuali tanah Andisol).
Lahan di daerah beriklim kering didominasi oleh tanah alkalin seperti
Grumosol dan Mediteran. Secara umum sifat kimiawi tanah beriklim kering
lebih baik daripada tanah beriklim basah, karena kandungan hara dan basa
cukup tinggi, dengan pH netral. Namun kandungan bahan organik, hara S,
hara mikro (Cu dan Zn) umumnya rendah. Lahan sawah hampir terdapat pada
setiap jenis tanah, tetapi luas dan kondisinya tergantung pada
ketersediaan hujan.
Kebanyakan lahan sawah terdapat pada jenis tanah Aluvial. Kendala
kesuburan pada lahan sawah terutama ketersediaan fosfat (P), sementara
unsur Ca, Mg dan K umumnya cukup tinggi. Berdasarkan luas areal
penanamannya, lahan paling cocok untuk tanaman cabai merah di Indonesia
dijumpai pada jenis tanah Mediteran danAluvial dengan tipe ikiim D3/E3,
yaitu 0-5 bulan basah dan 4-6 bulan kering.
Kemasaman Tanah dan Pengapuran
Kemasaman (pH) tanah mempengaruhi ketersediaan hara bagi tanaman. Pada
pH netral (6,5-7,5) unsur-unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup
banyak (optimal). Pada pH < 6,0 ketersediaan hara P, K, Ca, S dan Mo
menurun dengan cepat. Pada pH > 8 ketersediaan hara N, Fe, Mn, Bo, Cu
dan Zn relatif sedikit
.
Cabai merah mempunyai toleransi yang sedang terhadap kemasaman tanah,
dan dapat tumbuh baik pada kisaran pH tanah antara 5,5 - 6,8. Pada pH
> 7,0 tanaman cabai merah seringkali menunjukkan gejala klorosis,
yakni tanaman kerdil dan daun menguning karena kekurangan hara besi
(Fe). Pada pH < 5,5 tanaman cabai merah juga akan tumbuh kerdil
karena kekurangan Ca, Mg dan P atau keracunanAI dan Mn (Knott 1962).
Pada tanah masam (pH < 5,5) perlu dilakukan pengapuran dengan Kaptan
atau Dolomit dengan dosis 1-2 t/ ha untuk meningkatkan pH tanah dan
memperbaiki struktur tanah. Pengapuran dilakukan 3-4 minggu sebelum
tanam, dengan cara menebarkan kapur secara merata pada permukaan tanah
lalu kapur dan tanah diaduk. Pada tanah masam disarankan tidak
menggunakan terlalu banyak pupuk yang bersifat asam seperti ZA dan Urea.
Pupuk N yang paling baik untuk tanah masam adalah Calcium Amonium
Nitrate (CAN). Pupuk yang bersifat masam akan baik pengaruhnya bila
digunakan pada tanah Alkalin.
Perbaikan Sifat Fisik Tanah
Tanah yang ideal terdiri atas tiga komponen, yaitu masa padatan, air dan
udara, masing-masing dengan volume sepertiga bagian. Keadaan ini akan
menjamin aerasi, daya tahan air, drainase, dan aktivitas biologi tanah
yang cukup baik. Perbaikan sifat fisik tanah antara lain dapat dilakukan
dengan pengolahan tanah dan pemberian bahan organik. Bahan organik
mempunyai sifat mengurangi kepadatan tanah berat (tanah liat) dan
meningkatkan daya tahan air bagi tanah ringan (tanah pasir). Tanah yang
berpasir sekurang-kurangnya harus mengandung bahan organik 4 (C-organik
2), dan untuk tanah liat diperkirakan harus mengandung bahan organik
2(C-organik1).
Kebutuhan Unsur Hara
Lahan dengan kesuburan kimia yang kurang baik tidak merupakan faktor
pembatas yang serius dalam budidaya cabai merah, karena penggunaan pupuk
organik dan pupuk buatan relatif mudah. Hal yang tidak menguntungkan
adalah adanya pemberian pupuk yang berlebihan dan tidak berimbang.
Sering dijumpai petani yang memberikan pupuk secara berlebihan (terutama
pupuk N) dengan maksud mendapatkan hasil yang setinggi-tingginya,
tetapi pada kenyataannya hasilnya tidak selalu memuaskan. Penggunaan
pupuk yang berlebihan dapat menjadikan tanaman rentan terhadap serangan
hama dan penyakit, serta dapat menurunkan kualitas tanah. Untuk
menghasilkan buah sebanyak 21 t/ha, tanaman cabai merah harus menyerap
unsur hara N sebanyak 70 kg/ ha, P205 16 kg /ha, dan K20 92 kg /ha
(IFA World Fertilizer Use Manual, 1992 cit. Sutarya et al. 1995). Bila
efisiensi serapan N diperkirakan 60, P 40dan K 70, maka pupuk N yang
perlu diberikan adalah 70 kg/ 0,6 = 117 kg, P205 adalah 16 kg/ 0,4 = 40
kg, dan K20 adalah 92 kg/ 0,7 = 131 kg per ha. Kebutuhan pupuk tersebut
bervariasi tergantung pada jenis lahan, varietas, dan waktu tanam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar